Jumat, 30 Oktober 2015

Diskusi "Menyambut Kembali Bahasa Indonesia di Negeri Sendiri"

Diskusi
"MENYAMBUT KEMBALI
BAHASA INDONESIA
DI NEGERI SENDIRI" 

Waktu : 
29 October 2015 

Tempat : 
Unika Atma jaya, Gedung Yustinus, Lantai 14


Narasumber :
  • Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro (Mendikbud 1993-1998)
  • Dr jean Couteau (Pengamat Budaya Indonesia)
  • Dr Risa Permanadeli (Pusat Kajian Representasi Sosial Unika Atma Jaya)
  • Prof Dr Bambang Kaswanti Purwo (Unika Atma Jaya dan MLI)
  • Dr Katharina E. Sukamto (Unika Atma Jaya dan MLI)

Moderator :
  • Dr Rory Hutagalung
  • Dr Tyas (Psikologi Atma jaya) 

Pembahas :
  • Riris Sarumpaet (UI) 
  • Dr Yassir Nasanius (Unika Atma Jaya) 

Sambutan :
Dr RP Clara Ajisuksmo (Unika Atma Jaya dan MLI) 

Diskusi ini diselenggarakan dalam Rangka Menyambut Bulan Bahasa.


ULASAN : 

Dr. Katharina E. Sukamto (Unika Atma Jaya dan MLI)
Kebijakan bahasa keluarga sangat menentukan. Ada keluarga yang sengaja menjauhkan anaknya berbahasa Indonesia dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Dengan alasan supaya fasih berbahasa inggris dan mempunyai daya saing dalam mencari kerja di kemudian hari. Seorang anak usia dini mengabaikan bahasa Indonesia akan cenderung tidak menggunakannya. Banyak sekolah yang masih menggunakan bahasa Inggris meski sudah ada larangan oleh pemerintah. 

Prof Dr Bambang Kaswanti Purwo (Unika Atma Jaya dan MLI)
Keluarga cenderung memilih bahasa Inggris dan mengorbankan bahasa Indonesia; kalau harus memilih. Penelitian tentang alasan pemakaian Bahasa Inggris pada masyarakat perkotaan Indonesia. 

Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro (Mendikbud 1993-1998)
Sumpah Pemuda merupakan gebrakan dari atas bukan dari bawah untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pemerintah, media dan komunitas linguistik berperan penting memajukan bahasa Indonesia. Pengguna bahasa Indonesia 27%, bahasa Jawa 37%. Diperlukan gebrakan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Dr jean Couteau (Pengamat Budaya Indonesia)
Meski harus mengutamakan bahasa Indonesia tapi tidak harus meng go to hell kan bahasa Inggris. Bahasa Inggris digunakan untuk menciptakan jarak bagi orang kaya baru dan kaum elite. Segi politik penggunaan bahasa dan sejarah Mutu bahasa yang dipakai. Murid mempelajari bahasa Indonesia dari segi linguistik. Sedang sastra jarang dipelajari. Mutu tulisan mahasiswa di Bali belum sempurna. Masih ada beberapa kesalahan. Karena kelemahan proses pembelajaran. Transformasi menyebabkan memori kultural yang hilang. Mutu penerjemahan yang jelek. Bahasa Inggris dipergunakan dalam pergaulan internasional dan USA sebagai adi kuasa menggunakannya.

Dr Risa Permanadeli (Pusat Kajian Representasi Sosial Unika Atma Jaya) 
Menjelaskan sejarah bahasa Indonesia dan kaitannya denan bahasa Melayu. Sekolah Belanda dengan politik etis melahirkan priyayi yang akrab dengan bahasa asing. Bahasa = makna sosial. Bahasa = ilustrasi. Bahasa = ilusi Sosial. Bahasa Indonesia, bahasa Nusantara dan bahasa asing. 

Riris Sarumpaet (UI) 
Apa benar kita punya negara ? Apa benar kita memiliki 'sesuatu' yang menjadi milik sendiri ? Apakah benar kita ini orang Indonesia yang berada di negara sendiri ? Sesungguhnya kita sedang meratapi diri sendiri. 
Tanah kita ini sekarang bukan milik kita lagi. Air kitapun dijual. Unesco 1951 menyarankan pendidikan dilaksanakan dalam bahasa Ibu. Tapi kenyataannya keharusan sekolah menggunakan bahasa Indonesia menyebabkan bahasa daerah punah. Kebudayaan kita hanya untuk dijual. Alam kita sudah dirusak. SDA juga dimiliki asing. Kita hanya kacung yang tidak punya harga diri. Dulu kita menyebut negara agraris kini kita negara industri yang m emisahkan manusia dengan barang. Apa benar kita punya diri dan negeri sendiri ? Kita sudah diperhamba oleh diri sendiri. Pesoalan sendiri = identitas sendiri. Siapa kita ? Apa sesuai status martabat kita. Kita dibesarkan menjadi pemangsa. Seharusnya bagaimana membuat anak bahagia ? Tapi yang difokuskan ranking berapa di sekolah ? Apakah negara peduli dengan anda ? Undang-undang yang ada mencabut hak anak. Mengapa bahasa Indonesia menjadi pemersatu. Jangan heran sering ada tawuran. Kalau pengajaran berkaitan dengan pikiran tapi tanpa didampingi pendidikan karakter dan identitas diri. Jangan berkata buruk karena murid tidak diajak berpikir. 
Tidak bisa berpikir terang dan berpikir runtut. Ketiadaan kontek pengajaran bahasa dengan kehidupan murid. Tuna harga diri SBY dan Jokowi berpidato dalam bahasa Inggris; padahal ada UU yang mengharuskan pidato dalam bahasa Indonesia. Kalau dwi bahasa mengapa bahasa Indonesia bukan pilihan pertama ? Fungsi keluarga dan pendidikan anak usia dini dirusak olehnafsu memperoleh harta, kuasa dan tahta. 

Dr Yassir Nasanius (Unika Atma Jaya) 
Bahasa Indonesia sebagai bahasa tidak ada masalah. Karena bisa mengungkapkan pikiran penuturnya. Misal pelawak Cak Lontong, apa itu koruptor ? Apa itu Pejabat ? Kamu menuduh saya korupsi dari mana ? Dari melihat rumah dan melihat mobil saya ? Kalau begitu kamu pencuri karena masuk rumahku. Pendidikan yang baik kuncinya. Memberi penghargaan kepada siswa yang berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Memberi 'penghargaan' untuk Menteri yang berbahasa Indonesia jelek. Bagaimana agar jumlah koruptor tidak bertambah ? Jangan ditembak supaya jumlahnya tidak berkurang. Pak Habibie ditanya bagaimana Indonesia bisa mencapai kemajuan. Pak Habibie menjawab jika kita melakukan yang terbaik sesuai dengan bidang kita masing-masing.  

Slide foto-foto selama acara


Slide Dr Risa Permanadeli :

klik gambar untuk memperbesar





Slide Prof Dr Bambang Kaswanti Purwo :

klik gambar untuk memperbesar







Slide Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro :

klik gambar untuk memperbesar






www.NOMagz.com

Tidak ada komentar: