Senin, 06 Juni 2016

Diskusi YSNB Seri Kesebelas "Tantangan Masa Depan”

Diskusi YSNB
Seri Kesebelas
"Tantangan Masa Depan”



Waktu :
Sabtu, 04 Juni 2016

Tempat :
Merak Room, Jakarta Convention Center (JCC).
Jl. Gatot Subroto, Jakarta, 10270

Diskusi ini diadakan oleh Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) yang digagas Pontjo Sutowo.
Merupakan Diskusi Panel Serial “Membangun Budaya Bangsa dan Nilai Keindonesiaan Demi Masa Depan Bangsa”, dari bulan Agustus 2015 s/d  Desember 2016.               

Pembicara :
  • Dr. H.S Dillon.
  • Jenderal Purn. Djoko Santoso

Moderator :
Dr. Bambang Pharma


Ulasan Redaksi :

Sambutan :
Pontjo Sutowo
Desa yang bhineka, desa yang bertujuan, desa sebagai basis. Pancasila harus menjadi basis kebijakan publik. Budaya/mindset dulu yang terpenting. Kaum elite harus berperan menyusun strategi budaya unggul. Kita kehilangan kepercayaan diri. Kita harus menjadi center of culture dunia. Banggalah menjadi orang Indonesia.

Dr. H.S Dillon
"Nilai Dalam budaya Yang Mampu Menggerakkan Penanggulangan Kemiskinan Sebagai Keharusan"
Tentara ada juga yang pemikir sekaligus pejuang; bukan sekedar berperang. Proklamator menggali nilai-nilai budaya Indonesia. Indonesia Menggugat mereferensi 100 buku. Generasi mendatang bisa menangkap core value sesuai tantangan jamannya.Budaya lahir dari budi daya. Manusia bukan kalifah alam. Manusia adalah among/menjaga ibu pertiwi. Kepala desa memperjuangkan kepentingan warganya. Tapi sejak 1970 kepala desa menjadi PNS.
Kalau tidak bisa bangun komunitas bagaimana bisa bangun bangsa.Nilai, tujuan bernegara dalam pembukaan UUD 1945, azas kekeluargaan dan kebersamaan, kemanusiaan yang Adil Dan Beradab. Agama pribumi tidak boleh kita gusur. Nilai budaya, agama, UU.Moral baik dan buruk. Etika itu pantas dan tidak pantas. Nilai dalam budaya, kepercayaan yang tertanam (belief system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berprilaku (tidak terlihat).

Romo Magnis
Keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya". Nilai berbagi "Shared-poverty" Geertz."Mangan ora mangan asal  kumpul" (Bagi-bagi hasil produksi). Nilai dalam agama Islam (Zakat, sedekah, wakaf), Nasrani (cinta kasih), Hindu (Dana Punia), Budha (Atthavara Dana, Amisa Dana, Nicca Dana).Nilai dalam Pancasila dan UUD 1945. Kiri pro rakyat, kanan pro konglomerat.
Rupa republik :
- Kemiskinan absolut terus turun, namun kesenjangan meningkat.
- 1% menguasai 50,3% kekayaan negara.
- Kesenjangan antar daerah tetap besar.
- Korupsi merasuk dan menyebar.
- Degradasi lingkungan hidup.
- Daya saing regional dan global tertinggal.
Kita membuat diri kita tergantung terigu yang tidak bisa kita produksi sendiri. Ada sebagian orang yang miskin turun menurun; tidak ada bedanya jaman penjajahan. Pemerintah melanjutkan ekstraksi seperti jaman kolonial. Indek Persepsi korupsi ranking 107 di tahun 2014. Nilai 34 (skala 0-100).
Makna pendidikan. Dr. Wahidin dan Dr Sutomo "pendidikan merupakan senjata ampuh melawan penjajahan" Moral dan etika menempatkan martabat bangsa di atas kepentingan sendiri. Keberpihakan, moral, hati nurani, serta olah rasa dari lembaga-lembaga pendidikan dan tenaga pendidik. Kesetaraan.Kepercayaan diri menjadi yang terbaik. Tujuan pendidikan untuk mewariskan nilai-nilai luhur. Soekarno " Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit".
.

Kondisi pendidikan Indonesia. "Mutu pendidikan berbanding lurus dengan kemajuan bangsa"Peringkat Indonesia 69 dari 124 negara (WEF) - 2015. Turun dari peringkat 53 pada 2014.Hakekat penanggulangan Kemiskinan.Pengentasan kemiskinan tidak sekedar masalah "CARITAS", tetapi juga pembangunan KAPASITAS, untuk menaiki anak tangga keluar dari kemiskinan. (Assets, voice, access, income). Nilai untuk Menggerakkan penanggulangan kemiskinan. Budaya lokal/leluhur "Menanggulangi kemiskinan secara komunitas-adat". Manusia beragama "semangat bersama menghadapi bencana alam, epidemi, etika dan moral (amanah)". Raja Ali Haji, Gurindam XII, "Hendaklah berjasa, kpd yg sebangsa. Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela, hendaklah memegang amanat, buanglah khianat" Kesetaraan, sesama manusia, ukhuwah (Solidaritas sosial). Dunia usaha, Corporate Social Responsibility, Co-Prosperity; philanthrophy.
Tantangan penanggulangan kemiskinan. Kebijakan yang tidak memihak, permanent underclass (Papua, Betawi), capital formation (materi maupun ilmu dan kejuangan).Penggerak pertumbuhan, teknologi, globalisasi, reformasi pro-pasar. Perubahan iklim, back to basics. Beribadah namun menindas. "Orang rajin beribadah, namun bengis menindas rakyat dlam bentuk korupsi".

Komaruddin Hidayat.
Etika Jawa-Romo Magnis, "Kewajiban mencegah konflik dan memelihara suasana rukun, serta untuk menghormati kedudukan semua pihak dengan mempergunakan tata krama yang tepat". Sikap-sikap sosial ini didukung perasaan "isin" dan "sungkan". Kemana Indonesia Tercinta ? Kita belum menemukan "orang Indonesia" masih belum berhasil "mencerdaskan kehidupan bangsa".
Apa kita sudah kehilangan orang Jawa? (Pejabat tinggi -- Aku piye?)(Politisi-- bagi-bagi "hasil korupsi") Orang tua/guru/pemuka adat/tokoh agama/pimpinan politik/pejabat penegak hukum/pengusaha "Tauladan, tauladan, tauladan"People driven development.

Jenderal Purn. Djoko Santoso
"Nilai-nilai Budaya Desa Yang Menempatkan Sebagai Satuan Negara Bagi Ketahanan Bangsa"
Nilai budaya Pancasila ada di desa-desa. Ada nilai religius, kemanusiaan, Leadership/kearifan lokal, menghormati orang tua, solidaritas, kebersamaan/guyub, kekeluargaan, gotong royong, musyawarah, demokrasi, kemandirian, patriotisme. Kalau panen mengundang tetangga untuk memanen bersama dan membagikan 1/6 hasil panen untuk tetangga. Desa menjadi kantong dan pangkal perlawanan terhadap kapitalisme. Desa juga membangun kekuatan untuk melawan kapitalisme dan liberalisme. Musuh kita adalah kesenjangan ekonomi. Desa adalah ujung tombak otonomi daerah. Desa swadaya. Kita bangun jiwanya baru badannya. Pembangunan di desa jangan merusak nilai budaya desa yang sesuai nilai Pancasila.

Slide HS Dillon

Tanggapan :

Willy Toisuta.
What is actually wrong ? Bagaimana menyosialisasi pemikiran diskusi panel serial ini? Menjadi satu movement yang menggerakkan kembali hal-hal yang penting. Dilandasi kesadaran kembali berdasar pengetahuan. Menggali mutiara kekuatan yang sudah ada di negeri kita. More than evident based but evident proven. Tidak setuju sekolah guru menjadi universitas. Rekonstruksi pendidikan. Guru cenderung berpihak ke birokrasi daripada berpihak kepada pengembangan kapasitas belajar anak didik melalui pendidikan. Hasil adalah guru yang ahli pengetahuan dan pendidik. Precribe objective, pendidikan berdasar imajinasi, bukan kompetensi belaka.
1. Imagination possibility
2. Forecasting.
3. Deciding hal-hal yang harus terjadi.
Pendidikan dimulai dari rumah, kemudian sekolah. Pendidikan terlalu penting kalau hanya digantungkan pada nature.

Slide foto - foto selama acara



NOMagz.com

Tidak ada komentar: