Selasa, 15 Juli 2014

Diskusi "Ke Mana Arah Haluan Politik Indonesia Pasca Pilpres ?"

Diskusi Tema :

Ke Mana Arah Haluan Politik Indonesia Pasca Pilpres ?

Waktu:
Selasa, 15 Juli 2014, 15.00 - 18.00 WIB

Lokasi:
Maarif Institute, Tebet, Jakarta Selatan

Pembicara: 
  1. Dr Yudi Latif (Ketua Pusat Studi Pancasila, Univ. Pancasila);  
  2. Rahayu Siti Zuhro (Profesor Riset LIPI), 
  3. Ahmad Fuad Fanani (Direktur Riset Maarif Institute).

ULASAN :

Siti Zuhro mengatakan bahwa Prabowo bagus di konsep, namun tak pernah detil soal otonomi daerah.
Siti tidak kuatir bila Prabowo berkuasa demokrasi akan menjadi otoriter.
Siti menekankan bahwa demokrasi harus diberi dasar hukum yang kuat,karena kenyataannya semua yang memimpin hanya memikirkan kekuasaan belaka.

Jadi itikad baik saja tidak cukup. Pilar-pilar demokrasi harus dibenahi.
"Pemilu lokal dan nasional pun perlu dilakukan serentak," saran Siti.
Siti juga menganjurkan agar partai-partai mengadakan konvensi masing-masing.
"Kekuasaan memang menggoda, karena itu petualang politikpun semakin banyak. Sistem pemilu harus dibenahi sehingga hal-hal seperti isu SARA, kecurangan-kecurangan tidak selalu terulang dan terulang lagi setiap kali diadakan pemiliah umum", sambung Siti Zuhro lagi.

Penyerahan buku Maarif Institute kepada media partner

Yudi Latif berpendapat bahwa kedua calon yang bertarung di Pemilu tahun ini adalah antitesis dari Presiden SBY.
Sebagian rakyat mengidap "cinderela complex" (sindrom jatuh cinta pada penculiknya) yang diwakilkan pada ketertarikan pada sosok Prabowo.

Yudi juga menyatakan bahwa yang menyatukan berkerumunnya masyarakat di 2 kelompok ini adalah:
1. Ketakutan
2. Kepentingan, yg mengendap di benak masyarakat.
Kelompok Jokowi-JK takut bila Prabowo menang, maka tidak ada harapan bagi multukultarisme di Indonesia.
Prabowo sangat mengeksploitasi kelompok Islam, ditandai dengan banyaknya pemakaian simbol-simbol Islam. "Namun di lain pihak di kubu yang sama ada pula simbol-simbol fundamentalme Kristen", lanjut Yudi.
Ketakutan kubu Prabowo terhadap Jokowi-JK adalah karena ketakutan menggeloranya kekuatan kapital.
Yudi menambahkan bahwa fitnah di pemilu ini semakin "canggih", sehingga seorang Haji bisa dimanipulasi menjadi "Herbertus".
Terjadi pula kemunduran etika, yang ditandai misalnya aktivis keagamaan yang bergairah menyebarkan fitnah dan kebohongan.
Kemunduran etika juga terjadi dalam bidang jurnaliatik, misalnya tak ada cover both side dalam pemberitaannya.

Namun Yudi berpendapat bahwa diam-diam sebenarnya rakyat di akar rumput sudah damai dan siap demokrasi. "Rakyat punya nalarnya sendiri", imbuh Yudi.
Yudi berpendapat bahwa prestasi terbesar Pemilu kali ini adalah adanya para relawan.
Yudi berpesan bahwa pemimpin yang terpilih nanti harus melakukan 2 hal:
  1. Tegak lurus, yakni menghilangkan keberpihakan terhadap simbol-simbol. Juga harus melindungi semua komunitas dan sensitif terhadap HAM.
  2. Cabang2 produksi harus dipergunakan sebesar-besarnya ekonomi rakyat.
Bagi Yudi tidak ada kandidat yang memuaskan sepenuhnya.
"Orang tidak boleh berdusta,memanipulasi data, karena demokrasi akan hancur. Demokrasi harus free dan fair, tambah Yudi lagi.
Namun Yudi menyayangkan bahwa dusta telah menyebar di semua sektor.
"Pihak yang memanipulasi harrs dihadapi bersama", harap Yudi Latif lagi.


Fuad Fanani menyatakan bahwa pertarungan politik di Pemilu kali ini sangat miskin gagasan. Dan bahkan politik sekarang adalah tuna moral.
"SBY yang dulu mengagungkan quick count sekarang tidak lagi berpendapat yang sama" katanya.

Menurut Fuad, politik SARA masih dipakai seperti jaman dulu ketika istri SBY dikatakan sebagai non muslim. Hal serupa terjadi lagi di Pemilu 2014 ini.
Indonesia bisa menjadikan Pemilu 2014 ini sebagai turning pount, namun faktanya yang dulu isu-isu tertentu tidak laku, ternyata sekarang masih laku.
Pertarungan politik tidak berhenti pada 9 juli, karena masih ada 22 juli, dan kemungkinan pertarungan di Mahkamah Konstitusi.
Politik di Indonesia ini unik, misalnya PKS yg berideologi Ikhwanul Muslimin, tapi di Indonesia justru bisa bergandengan dengan mantan jendral.
Bagi Fuad, unsur Islam sudah diwakili di kedua kubu, baik Prabowo maupun Jokowi.


Fuad mengharapkan agar pilpres kemarim dianggap hanya "main-main" saja, dan tidak perlu dibawa lebih serius setelah 22 juli 2014.
"Pilpres ini adalah ujian, apakah demokrasi Indonesia hanya prosedural atau membawa kesejahteraan rakyat" tambah Fuad.


Slide foto-foto selama acara

VIDEO ACARA :


https://www.youtube.com/watch?v=T8WfV4QjSTU



Siaran Pers:

klik gambar untuk memperbesar




Makalah Siti Zuhro:

klik gambar untuk memperbesar






www.NOMagz.com

Tidak ada komentar: