Senin, 19 September 2016

Simposium Para Pembongkar Kejahatan Kolonial, Dari Multatuli Sampai Sukarno

Simposium
  Para Pembongkar Kejahatan Kolonial,
Dari Multatuli Sampai Sukarno



Waktu :
Sabtu, 17 September 2016

Tempat :
Museum Nasional, Jakarta

Pembicara :
  • Bonnie Triyana (Pemimpin Redaksi Majalah Historia)
  • H. Iti Octavia (Bupati Lebak)
  • H. Rano Karno (Gubernur Banten)
  • Daniel Dhakidae (Budayawan)
  • Ubaidillah Muchtar (Pendiri Taman Baca Multatuli)
  • Asvi Warman Adam (Sejarawan LIPI)
  • Budiman Sudjatmiko (Politisi PDIP)
  • Peter Carey (Penulis Sejarah)

Hadirin

Ulasan Redaksi :

Sambutan :
Bonnie Triyana
Sedang dibangun Museum Multatuli di Banten. Multatuli pernah bekerja di Banten selama 3 bulan. Dan kemudian menulis buku 'Max Havelaar'. Oleh Belanda buku tersebut diusulkan menjadi warisan dunia UNESCO  tahun 2011.

Hj. Iti Octavia
Selain membangun Museum Multatuli juga membangun Perpustakaan Saija Adinda
yang akan diresmikan Desember 2016, bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Lebak yang ke-188. Museum akan dilengkapi benda-benda milik pribadi Multatuli. Materi museum juga akan berisi sejarah kolonialisme. Perpustakaan juga dilengkapi auditorium dan audio visual.

H. Rano Karno
Oktober 2016 Propinsi Banten berusia 16 tahun, yang dicanangkan sebagai 'Hari Kebangkitan Propinsi Banten'. Selain membangun Museum Multatuli, Banten telah mempunyai ikon Museum Heritage di Tangerang yang rutin menyelenggarakan 'Festival Peranakan Tionghoa'.

Daniel Dhakidae
Gaya bahasa Multatuli dalam bukunya Max Havelaar sangat sulit, lincah, sekaligus powerful. Kemudian diterjemahkan oleh HB Jassin ke bahasa Indonesia. Buku berisi tentang perlakuan tidak adil kolonial terhadap orang Jawa. Awalnya buku ini dilarang di Hindia Belanda. Oleh Sigmund Freud buku ini dianggap sebagai salah satu buku terhebat.
Relevansi isi buku,
1. Adanya korupsi dan koruptor.
2. Ketidakadilan.Mengusulkan agar anggota DPR membaca buku ini.

Slide Hj. Iti Octavia

Ubaidillah Muchtar
Kalimat mengesankan Multatuli dalam buku Max Havelaar 'Sikap setengah hati tidak menghasilkan apa-apa, setengah baik artinya tidak baik, setengah benar artinya tidak benar'. Buku ini menumbuhkan semangat keinginan merdeka pada pemuda. HB Jassin dan YB Mangunwijaya pernah bertestimoni, bahwa guru nomor satunya adalah Max Havelaar.

Asvi Warman Adam
Nama penulis buku Max Havelaar adalah Eduard Doewes Dekker. Sedang Ernest Doewes Dekker adalah individu lain pendiri Indische Partij pada 25 Desember 1912, yang kita kenal sebagai Danudirja Setiabudi (Pahlawan Nasional). Yang pada 1947 diangkat sebagai Menteri Negara. Konon beliau masuk Islam dan jadi anggota Partai Masyumi ?.Pramudia Anata Toer tentang Multatuli,
1. 1959 Komite Perdamaian Pusat, 140 tahun Multatuli,
2. Mengusulkan pembuatan patung Mulatuli,
3. Bung Karno tidak menjawab, dan justru bertanya mengapa Multatuli, mengapa bukan Baar atau Sneevliet?
4. Saya duga Bung Karno keliru tentang Doewes Dekker yang ditafsirkan Danudirja Setiabudi, padahal yang diusulkan adalah Eduard Doewes Dekker penulis Max Havelaar. Akhir hayat sang pembongkar,
- Eduard Doewes Dekker meninggal 1887 di Jerman dan dikremasi.
- Ernest Doewes Dekker wafat di Bandung 1950 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra.
- Sukarno wafat Juni 1970 setelah ditahan dan tidak dirawat sebagaimana selayaknya di Wisma Yaso Jakarta.


NOMagz.com

Tidak ada komentar: