Kamis, 05 Maret 2015

Presentasi dan Konferensi Pers : "Dukungan Terhadap Kewirausahaan Sosial"

Presentasi
dan Konferensi Pers : 
"Dukungan Terhadap 
Kewirausahaan Sosial"


Waktu :
Kamis 5 Maret 2015

Tempat :
Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sambutan:
  • Mona (DBS Bank)
  • M Bijaksana Junerosano (Generation Indonesia)
  • Rosel Lavina Soedjati

Pembicara:

  • M Bijaksana Junerosano (Generation Indonesia)
  • Dewi (Akademisi Kewirausahaan Sosial)
  • Mona (Bank DBS Indonesia)

MC/Moderator: 
Rosel Lavina Soedjati

Host: 
Generation Indonesia (green attitude green environment)
 

Sponsor : 
Bank DBS Indonesia (Living, Breathing Asia)




ULASAN :

Dukung Upaya Wirausaha Sosial, DBS Indonesia Rangkul Greeneration untuk Gerakkan Program Kelola Sampah

Kewirausahaan sosial dapat menjadi solusi bisnis inovatif bagi permasalahan sosial di tanah air, termasuk isu lingkungan dan sampah

  1. Kewirausahaan sosial merupakan fokus CSR DBS Indonesia sejak beberapa tahun terakhir
  2. Bagian dari kampanye brand "Igniting Possibilities, Sparking Joy", DBS Indonesia menyulutkan kesempatan kepada wirausaha berbasis sosial untuk tumbuh dan berkembang
  3. Program 3R School Adoption selama setahun yang menjangkau lima sekolah menengah di Bekasi ini diharapkan cetak pionir muda peduli sampah dan wirausahawan sosial




JAKARTA, 5 Maret 2015 – PT Bank DBS Indonesia (DBSI) hari ini mengumumkan dukungannya terhadap upaya-upaya pertumbuhan wirausaha sosial di Indonesia melalui Greeneration Indonesia, salah satu wirausaha sosial yang fokus di bidang lingkungan. Program dari Greeneration tersebut adalah pengelolaan sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) School Adoption dengan menggandeng sejumlah SMA di Bekasi sebagai pilot project. Selama setahun, sekolah-sekolah ini akan mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan pengawasan untuk menerapkan program 3R School Adoption. Sampah yang telah dipilah kemudian akan diolah untuk dapat dijadikan barang yang dapat dijual. Keseluruhan program ini akan dikelola dan dioperasikan di lapangan oleh Waste4Change, anak usaha Greeneration, guna memberikan solusi terhadap permasalahan sampah, dengan prinsip perubahan perilaku dan pengelolaan yang bertanggung jawab.
Dalam salah satu dokumen riset (working paper) terkait Kewirausahaan Sosial, Asia Centre for Social Entrepreneurship and Philanthropy, National University of Singapore (NUS) Business School menyebutkan bahwa kewirausahaan sosial adalah solusi bisnis masa kini untuk menyelesaikan permasalahan sosial masyarakat. Dokumen itu juga menyebutkan seluruh elemen masyarakat, baik sektor swasta, yayasan-yayasan, gerakan amal, wajib bahu-membahu karena dimensi permasalahan sosial yang tumbuh kini menjadi semakin kompleks. Wirausaha sosial yang melibatkan seluruh pihak akan menghadirkan solusi kolaboratif jangka panjang dan berkelanjutan.
DBSI menyadari bahwa sektor swasta merupakan bagian dari aktor yang wajib berperan serta secara aktif dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial di Indonesia. "Oleh karena itu, DBSI fokus dalam pengenalan dan pengembangan kewirausahaan sosial di tanah air. Seiring dengan kampanye brand DBS yang sedang berjalan saat ini bertema "Igniting Possibilities, Sparking Joy", kami ingin menjadi institusi finansial yang menyulutkan kesempatan kepada wirausaha berbasis sosial untuk dapat tumbuh dan berkembang, sehingga mampu memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan sosial sekaligus memperkuat perekonomian," ujar Mona Monika, Head of Group Strategic Marketing & Communications, DBS Indonesia.
Sehubungan dengan fokus bank dalam memajukan kewirausahaan sosial di Indonesia, DBS memiliki tiga pendekatan, yaitu: (1) Melalui pembangunan kesadaran dan advokasi untuk usaha-usaha sosial; (2) Mengikuti kebutuhan sosial yang terus berubah, melalui inovasi sosial dan program inkubasi; (3) Mengembangkan wirausaha-wirausaha sosial yang sangat berpotensi dan mendorong pertumbuhan mereka ke kancah regional.
"Fokus kami dalam mendukung tumbuhnya wirausaha sosial di Indonesia memungkinkan DBSI untuk menyoroti berbagai macam isu sosial. Saat ini, bersama Greeneration, tema yang diangkat adalah permasalahan lingkungan khususnya pengelolaan sampah," ujar Mona.
"Greeneration tidak hanya melakukan program pengelolaan sampah di SMA terpilih, namun juga mengadakan pelatihan pengenalan kewirausahaan sosial kepada murid-murid sekolah tersebut," tambahnya.
Pendiri Greeneration Indonesia Muhammad Bijaksana Junerosano meyakini bahwa program pengelolaan sampah (3R School Adoption) yang diusungnya dapat berjalan lebih efektif bila dilaksanakan di sekolah. "Kunci untuk memulai perubahan terletak pada perubahan perilaku manusia, dan sekolah adalah institusi yang tepat untuk memperkenalkan perubahan tadi pada generasi muda," ujar Sano, sapaannya.
Lima sekolah di Bekasi yang akan menjadi pilot project adalah SMAN 9, SMAN 13, SMAN 2, SMK 3, dan SMA PGRI. "Kami memang memilih lokasi di Bekasi untuk memudahkan proses transportasi sampah ke Rumah Pemilah Material. Sekolah-sekolah ini juga memiliki minat dan kesungguhan untuk menjalani program 3R School Adoption," jelas Sano.
Melalui program ini, DBS Indonesia dan Greeneration akan melaksanakan empat kegiatan utama. Yaitu: (1) Pelatihan pengelolaan sampah kepada siswa, guru dan staf di sekolah; (2) Memfasilitasi infrastruktur pengelolaan sampah; (3) Pelatihan pengelolaan sampah organik di sekolah; (4) Pengumpulan sampah anorganik dan kertas secara reguler untuk dikelola di Rumah Pemilah Material.
Nantinya, Sano dan kawan-kawan tidak hanya akan berbagi tentang sampah. "Greeneration adalah salah satu contoh sekumpulan anak muda yang sukses menjalankan wirausaha sosial, berbisnis dengan tujuan memberikan dampak baik ke masyarakat. Kami berharap, interaksi aktif dengan Greeneration dapat membangkitkan semangat dan wawasan para siswa, bahwa wirausaha sosial adalah pilihan berbisnis yang dapat ditekuni," ujar Mona Monika.
Dewi Meisari dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Center (UKMC) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang turut hadir dalam peluncuran program dukungan DBSI terhadap Greeneration menyebutkan bahwa kewirausahaan sosial di Indonesia saat ini masih dalam tahap pengenalan.
"Indonesia masih membutuhkan sekitar satu juta wirausaha baru untuk mencapai kebutuhan 2 persen penduduk sebagai wirausahawan. Dari target tersebut, sangat dibutuhkan dorongan khusus bagi tumbuh kembangnya wirausaha sosial agar berkelanjutan dan berkinerja baik, sehingga dapat menyelesaikan masalah sosial. Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki banyak masalah yang tidak mungkin diselesaikan sendiri oleh pemerintah," ujar Dewi. "Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi kegiatan 3R School Adoption oleh DBSI dan Greeneration. Selain akan menanamkan jiwa tanggung jawab lingkungan kepada siswa SMA, kegiatan ini sangat baik untuk advokasi kewirausahaan sosial, sehingga dapat lebih banyak lagi anak-anak muda yang terinspirasi menjadi wirausahawan sosial seperti Sano dengan Greeneration-nya," tambah Dewi.
***Selesai***

Tentang DBS
 

DBS - Living, Breathing Asia
DBS adalah sebuah grup penyedia jasa keuangan terkemuka di Asia, dengan lebih dari 250 cabang di 17 pasar di dunia. Berkantor pusat dan terdaftar di bursa saham Singapura, DBS hadir dan tumbuh di tiga poros utama pertumbuhan Asia: Cina, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Posisi permodalan bank, serta peringkat kredit "AA-" dan "Aa1", adalah salah satu yang tertinggi se-Asia Pasifik. DBS telah diakui sebagai bank terbaik di regional, mendapatkan penghargaan "Bank Asia Terbaik" oleh The Banker, anggota dari grup Financial Times, dan "Bank Terbaik di Asia Pasifik" oleh Global Finance. DBS juga telah dinobatkan sebagai "Bank Teraman di Asia" oleh Global Finance selama enam tahun berturut-turut pada dari 2009 sampai 2014.
DBS menyediakan berbagai layanan di perbankan konsumen, UKM, dan kegiatan perbankan korporasi di seluruh Asia. Sebagai bank yang lahir dan dibesarkan di Asia, DBS memahami seluk-beluk dalam melakukan bisnis di pasar yang paling dinamis ini. Pengetahuan mengenai pasar dan jaringan yang dimiliki DBS di wilayah tersebut telah mendorong pertumbuhan bank, seiring dengan tujuan DBS untuk menjadi bank pilihan Asia. DBS juga berkomitmen untuk membangun hubungan yang harmonis dengan pelanggan, dan memberikan dampak positif kepada masyarakat dengan mendukung usaha sosial, karena bank tersebut menjalankan bisnisnya sesuai dengan tradisi yang hidup di Asia.
Dengan jaringan operasi yang luas di Asia serta penekanan pada keterlibatan dan pemberdayaan karyawan, DBS memberikan peluang karir yang menarik. DBS merasakan gairah, komitmen, dan semangat optimistis di 20,000 karyawan kami, yang mewakili lebih dari 30 kebangsaan. Untuk detail lebih lanjut, silakan kunjungi www.dbs.com.
Tentang DBS Foundation
Secara global, DBS berkomitmen untuk menciptakan ekosistem yang baik bagi kewirausahaan sosial di Asia, berdasarkan keyakinan bahwa kewirausahaan sosial adalah jawaban bagi tantangan dunia di masa kini dan di masa depan. Untuk itu, DBS mendirikan DBS Foundation di tahun 2014 guna memastikan upaya yang komprehensif dalam mencapai tujuan tersebut, salah satunya dengan membantu memberikan bantuan finansial bagi para wirausaha sosial yang dirasa tidak hanya dapat memberikan dampak signifikan bagi lingkungan sosialnya, tetapi juga memiliki model bisnis yang berkelanjutan. Di samping itu, DBS juga membantu mempromosikan kewirausahaan sosial kepada masyarakat Asia secara luas.
Tentang DBS Indonesia
Didirikan pada 1989, dan merupakan bagian dari Grup DBS yang berbasis di Singapura, PT Bank DBS Indonesia (DBS Indonesia) memiliki sejarah panjang di Asia. Dengan 39 kantor cabang dan 1.600 pegawai tetap yang tersebar di 11 kota besar di Indonesia, DBS Indonesia memberikan berbagai layanan di konsumer, UKM, dan kegiatan perbankan korporasi.
DBS Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai "Best Wealth Manager in Indonesia" dari The Asset dan "Best Foreign Exchange Bank in Indonesia" dari Global Finance. DBS Indonesia juga mendapat penghargaan "Banking Efficiency Award" dari Bisnis Indonesia selama dua tahun berturut-turut (2012-2013).

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.dbs.com/id.



Beberapa foto dan keterangan resmi :

klik gambar untuk memperbesar



DBS_1: Pendiri Greeneration Indonesia Muhammad Bijaksana Junerosano (tengah), menjelaskan tentang proses pemilahan sampah kepada para pelajar SMA dan SMK sebagai bagian dari program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) School Adoption yang akan diselenggarakan bersama Bank DBS Indonesia. Dalam acara peluncuran program yang diselenggarakan di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini, hadir pula Dewi Meisari dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Center (UKMC) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (paling kiri) dan Mona Monika, Head of Group Strategic Marketing & Communications, DBS Indonesia (paling kanan). Kamis (5/3)


DBS_2: Pendiri Greeneration Indonesia Muhammad Bijaksana Junerosano dan Dewi Meisari dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Center (UKMC) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (dua terkiri) serta Mona Monika, Head of Group Strategic Marketing & Communications, DBS Indonesia (paling kanan), berfoto bersama para guru yang akan ikut mendamping program 3R School Adoption. Mereka menunjukkan tiga jari untuk menggambarkan 3R. Kamis (5/3)



 
DBS_3: DBS_3: Pendiri Greeneration Indonesia Muhammad Bijaksana Junerosano menjelaskan mengenai program, gerakan, dan bisnis berbasis sosial yang dikelolanya, termasuk program 3R School Adoption yang dicanangkan hari ini bersama DBS Indonesia. Selain itu, DBS Indonesia dan Greeneration mengajak siswa SMA untuk mengenal rancangan wirausaha sosial dan mencetak lebih banyak pelaku bisnis sosial muda. Peluncuran program ini diadakan pada Kamis (5/3) di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.​
.
 
DBS_4: Dari kiri, Mona Monika (Head of Group Strategic Marketing & Communications, DBS Indonesia), Muhammad Bijaksana Junerosano (Pendiri Greeneration Indonesia), (kedua dari kanan), dan Dewi Meisari (Senior Associate Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Center (UKMC) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) berdiskusi mengenai cara sederhana memilah sampah dalam kegiatan diskusi untuk meluncurkan program 3R School Adoption yang digagas Greeneration dan DBS Indonesia, di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kamis (5/3).
.
 
DBS_5: Pendiri Greeneration Indonesia Muhammad Bijaksana Junerosano menunjukkan salah satu usahanya membuat tas untuk menggantikan fungsi plastik belanja. DBS Indonesia dan Greeneration mengembangkan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) School Adoption untuk mengajak siswa SMA mencintai lingkungan dan mengenal kewirausahaan sosial. Peluncuran program ini diadakan pada Kamis (5/3) di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.



www.NOMagz.com

Tidak ada komentar: